Powered By Blogger

Senin, 25 Juli 2011

TANGISAN ISAM BIN YUSUF

"Dikisahkan bahawa ada seorang ahli ibadah bernama Isam bin Yusuf, dia sangat warak dan sangat khusyuk sembahyangnya. Namun demikian dia selalu khuatir kalau-kalau ibadahnya kurang khusyuk dan selalu bertanya kepada orang yang dianggapnya lebih baik ibadahnya, demi untuk memperbaiki dirinya yang selalu dirasanya kurang khusyuk.

Pada suatu hari Isam menghadiri majlis seorang abid bernama Hatim Al-Asam dan bertanya: "Wahai Aba Abdurrahman (Nama gelaran Hatim), bagaimanakah caranya tuan sembahyang?"

Berkata Hatim: "Apabila masuk waktu sembahyang, aku berwuduk zahir dan batin." Bertanya Isam: "Bagaimana wuduk batin itu?"

Berkata Hatim: "Wuduk zahir sebagaimana biasa, iaitu membasuh semua anggota wuduk dengan air. Sementara wuduk batin ialah membasuh anggota dengan 7 perkara :
·  Bertaubat.
·  Menyesali akan dosa yang telah dilakukan.
·  Tidak tergila-gila dengan dunia.
·  Tidak mencari atau mengharapkan pujian dari manusia
·  Meninggalkan sifat bermegah-megahan.
·  Meninggalkan sifat khianat dan menipu.
·  Meninggalkan sifat dengki."

Seterusnya Hatim berkata: "Kemudian aku pergi ke Masjid, ku kemaskan semua anggotaku dan menghadap kiblat. Aku berdiri dengan penuh kewaspadaan dan aku bayangkan Allah ada di hadapanku, syurga di sebelah kananku, neraka di sebelah kiriku, malaikat maut berada di belakangku. Dan kubayangkan pula bahawa aku seolah-olah berdiri di atas titian Shiratul Mustaqim' dan aku menganggap bahawa sembahyangku kali ini adalah sembahyang terakhir bagiku (kerana aku rasa akan mati selepas sembahyang ini), kemudian aku berniat dan bertakbir dengan baik. Setiap bacaan dan doa dalam sembahyang ku faham maknanya, kemudian aku rukuk dan sujud dengan tawaduk (merasa hina), aku bertasyahud (tahiyat) dengan penuh pengharapan dan aku memberi salam dengan ikhlas. Beginilah aku bersembahyang selama 30 tahun.

Apabila Isam mendengar menangislah ia sekuat-kuatnya kerana membayangkan ibadahnya yang kurang baik bila dibandingkan dengan Hatim. "

Abu Hurairah pingsan menahan lapar

Orang yang paling banyak meriwayatkan hadist dari Nabi Muhammad SAW adalah Abu Hurairah ra.Keika islam datang dia hanyalah seorang penggembala ternak.Setelah dia mengetauhi adanya agama baru yang dibawa oleh seorang arab yang berasal dari Makkah dia segera mencari tahu dan akhirnya meyakini agama baru tersebut.

Abu Hurairah adalah sebuah nama julukan yang diberikan untuknya karena dia mempunyai seekor kucing(hurairah).Dia mengikuti kemana Nabi SAW pergi dan menyimak semua perkataan Nabi dan setelah Nabi tidak ada dia meriwayatkan hadist-hadist yang pernah dia dengar langsung dari Nabi SAW.

Suatu ketika dia sudah tidak makan dalam beberapa hari sehingga membuatnya lapar sekali dan itu adalah sebuah kebiasaan baginya dikarenakan dia tidak mempunyai apa-apa untuk dimakan.Akhirnya terpikir dalam hatinya untuk menemui Abu Bakar as-Shidiq ra,berharap dia mau mengajaknya makan.Akan tetapi setelah dia bertemu dengan Sahabat Abu Bakar dia tidak menawarinya makan,akhirnya dia berharap kepada sahabat yang lain tapi sahabat yang lain juga tidak ada yang mengajaknya untuk makan dia dikarenakan mereka juga tidak mengetahui bahwa dia lapar sekali.Akhirnya dia hanya bisa menahan rasa laparnya ketika dia di dalam Masjid Nabawi akhirnya tidak tahan karena rasa laparnya itu dan akhirnya dia pingsan,melihat dia pingsan sahabat yang lain mengira kalau dia terkena penyakit.

Begitulah kehidupan orang-orang disekitar Nabi SAW pernuh dengan kesederhanaan dan kecintaan kepada agama.

Syed Naquib Al-Attas


Megaproyek Islamisasi Peradaban

(republika.co.id)


Menjadikan peradaban Islam kembali hidup dan memiliki pengaruh yang mewarnai peradaban global umat manusia adalah salah satu gagasan dan proyek besar cendekiawan ini. Seluruh hidupnya, ia persembahkan bagi upaya-upaya revitalisasi peradaban Islam, agar nilai-nilai yang di masa lalu dapat membumi dan menjadi 'ikon' kebanggaan umat Islam, dapat menjelma dalam setiap lini kehidupan kaum Muslim sekarang ini.

Seluruh daya upaya itu telah dan terus dilakukan oleh Syed Naquib Al-Attas, intelektual yang di masa kini menjadi salah satu menara keilmuan Islam modern. Proyek besarnya itu dikemasnya dalam 'Islamisasi Ilmu Pengetahuan' melalui lembaga pendidikan yang ia dirikan, yakni International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC), Kuala Lumpur, Malaysia.

Guru Besar dalam bidang studi Islam di ISTAC-IIUM Kuala Lumpur ini lahir di Bogor, Indonesia, pada 5 September 1931. Moyang Naquib berasal dari Hadramaut (keturunan Arab Yaman). Dari garis ibu, Naquib keturunan Sunda, sekaligus memperoleh pendidikan Islam di kota Hujan itu. Sementara dari jalur ayah, ia mendapatkan pendidikan kesusastraan, bahasa, dan budaya Melayu. Ayahnya yang masih keturunan bangsawan Johor itu, membuat Naquib memiliki banyak perhatian tentang budaya Melayu sejak muda. Tampaknya kedua orang tuanya ingin Naquib kecil mendalami ilmu di negeri jiran, Malysia. Lantaran itu, sejak usia 5 tahun, Naquib dikirim menetap di Malaysia. Di sinilah ia mendapatkan pendidikan dasarnya di Ngee Heng Primary School.

Namun, sejak Jepang menduduki Malaya pada pertengahan 40-an, Naquib kembali ke Indonesia dan melanjutkan pendidikan menengahnya di Madrasah Urwatul Wutsqa, Sukabumi. Ia tamat sekolah atas, dan kembali ke Malaysia. Naquib sempat bergabung dengan dinas ketentaraan negeri itu, dan sempat pula dikirim untuk belajar di Royal Military Academy, Inggris.

Namun pada 1957, ia keluar dari militer dan melanjutkan studi di University Malaya. Selanjutnya, ia mengambil studi Islam di McGill University, Montreal, Kanada hingga meraih gelar master. Sementara strata doktoralnya ia raih dari School of Oriental and Africa Studies, University of London (1965). Ia lantas kembali ke Malaysia dan pernah memegang beberapa jabatan penting, antara lain Ketua Jurusan Kajian Melayu, University Malaya (UM).

Naquib sempat menjadi perhatian publik intelektual Malaysia dan mendapat tentangan keras beberapa kalangan ketika ia mengusulkan agar bahasa Melayu menjadi bahasa resmi pengantar di sekolah. Saat itu, bahasa resmi pengantar adalah Bahasa Inggris.

Ia juga menentang keras penghapusan pengajaran bahasa Melayu-Jawi (yang ditulis dengan huruf Arab) di sekolah-sekolah dasar dan lanjutan. Kini, sistem tersebut masih diberlakukan di negeri jiran tersebut. Naquib memang memberi perhatian besar pada bahasa dan budaya Melayu. Ia ingin putra bumi (pribumi) benar-benar terdidik sehingga tidak menjadi obyek dari penjajahan kultural dunia Barat.

Selain itu, Naquib amat memberi perhatian besar pada bidang pendidikan Islam. Pada Konferensi Dunia Pertama Pendidikan Islam di Makkah, 1977, ia mengungkapkan konsep pendidikan Islam dalam bentuk universitas. Respons bagus muncul dan ditindaklanjuti oleh Organisasi Konferensi Islam (OKI) yang menjadi sponsor pendirian Universitas Islam Internasional (IIU) Malaysia pada 1984.

Tak hanya berhenti di situ, Naquib juga mendirikan ISTAC, lembaga pendidikan Islam yang dimaksudkan untuk merevitalisasi nilai-nilai peradaban Islam dan islamisasi ilmu pengetahuan. Lembaga ini sempat menjadi perhatian publik intelektual internasional dan dipandang sebagai salah satu pusat pendidikan Islam terpandang. Sayangnya, akibat tragedi 11 September 2001, pemerintah Malaysia bersikap berlebihan dan mencurigai beberapa pengajar sebagai pengembang gerakan Islam.

Akibatnya pemerintah negeri itu mengeluarkan keputusan menggabungkan ISTAC ke dalam UM, sebagai salah satu departemen tersendiri, dan tak lagi sebagai lembaga pendidikan Islam independen. Atas berbagai prestasinya itu, Naquib meraih banyak penghargaan internasional. Di antaranya, Al-Ghazali Chair of Islamic Thought.

Sebagai intelektual dan ilmuwan Muslim yang sangat dihormati dan berpengaruh, Selama ini Naquib dikenal sebagai pakar di bidang filsafat, teologi, dan metafisika. Gagasannya di sekitar revitalisasi nilai-nilai keislaman, khususnya dalam bidang pendidikan, tak jarang membuat banyak kalangan terperanjat lantaran konsep yang digagasnya dinilai baru dan karena itu mengundang kontroversi.

Salah satu konsep pendidikan yang dilontarkan Naquib, seperti ditulis dalam The Educational Philosophy and Practice of Syed Muhammad Naquib Al-Attas (1998) yang telah di-Indonesiakan oleh Mizan (2003), yaitu mengenai ta'dib. Dalam pandangan Naquib, masalah mendasar dalam pendidikan Islam selama ini adalah hilangnya nilai-nilai adab (etika) dalam arti luas. Hal ini terjadi, kata Naquib, disebabkan kerancuan dalam memahami konsep tarbiyah, ta'lim, dan ta'dib.

Naquib cenderung lebih memakai ta'dib daripada istilah tarbiyah maupun ta'lim. Baginya, alasan mendasar memakai istilah ta'dib adalah, karena adab berkaitan erat dengan ilmu. Ilmu tidak bisa diajarkan dan ditularkan kepada anak didik kecuali orang tersebut memiliki adab yang tepat terhadap ilmu pengetahuan dalam pelbagai bidang.

Sementara, bila dicermati lebih mendalam, jika konsep pendidikan Islam hanya terbatas pada tarbiyah atau ta'lim ini, telah dirasuki oleh pandangan hidup Barat yang melandaskan nilai-nilai dualisme, sekularisme, humanisme, dan sofisme sehingga nilai-nilai adab semakin menjadi kabur dan semakin jauh dari nilai-nilai hikmah ilahiyah. Kekaburan makna adab atau kehancuran adab itu, dalam pandangan Naquib, menjadi sebab utama dari kezaliman, kebodohan, dan kegilaan.

Dalam masa sekarang ini, lazim diketahui bahwa salah satu kemunduran umat Islam adalah di bidang pendidikan. Dari konsep ta'dib seperti dijelaskan di atas, akan ditemukan problem mendasar kemunduran pendidikan umat Islam. Probelm itu tidak terkait masalah buta huruf, melainkan berhubungan dengan ilmu pengetahuan yang disalahartikan, bertumpang tindih, atau diporakporanndakan oleh pandangan hidup sekular (Barat).

Akibatnya, makna ilmu itu sendiri telah bergeser jauh dari makna hakiki dalam Islam. Fatalnya lagi, ini semua kemudian menjadi 'dalang' dari berbagai tindakan korup (merusak) dan kekerasan juga kebodohan. Lahir kemudian pada pemimpin yang tak lagi mengindahkan adab, pengetahuan, dan nilai-nilai positif lainnya. Untuk itulah, dalam amatan Naquib, semua kenyataan ini harus segera disudahi dengan kembali membenahi konsep dan sistem pendidikan Islam yang dijalankan selama ini.

Pada sisi lain, Naquib berpendapat bahwa untuk penanaman nilai-nilai spiritual, termasuk spiritual intelligent dalam pendidikan Islam, ia menekankan pentingnya pengajaran ilmu fardhu ain. Yakni, ilmu pengetahuan yang menekankan dimensi ketuhanan, intensifikasi hubungan manusia-Tuhan dan manusia-manusia, serta nilai-nilai moralitas lainnya yang membentuk cara pandang murid terhadap kehidupan dan alam semesta. Bagi Naquib, adanya dikotomi ilmu fardhu ain dan fardhu kifayah tidak perlu diperdebatkan. Tetapi, pembagian tersebut harus dipandang dalam perspektif integral atau tauhid, yakni ilmu fardhu ain sebagai asas dan rujukan bagi ilmu fardhu kifayah.

Berkaitan dengan islamisasi ilmu pengetahuan, sosok Naquib amat mencemaskan perkembangan ilmu pengetahuan modern. Sosok ini termasuk orang pertama yang menyerukan pentingnya islamisasi "ilmu". Dalam salah satu makalahnya, seperti ditulis Ensiklopedi of Islam, Naquib menjelaskan bahwa "masalah ilmu" terutama berhubungan dengan epistemologi. Masalah ini muncul ketika sains modern diterima di negara-negara muslim modern, di saat kesadaran epistemologis Muslim amat lemah.

Adanya anggapan bahwa sains modern adalah satu-satunya cabang ilmu yang otoritatif segera melemahkan pandangan Islam mengenai ilmu. Naquib menolak posisi sains modern sebagai sumber pencapaian kebenaran yang paling otoritatif dalam kaitannya dengan epistemologis, karena banyak kebenaran agama yang tak dapat dicapai oleh sains yang hanya berhubungan dengan realitas empirik. Pada tingkat dan pemaknaan seperti ini, sains bertentangan dengan agama. Baginya, dalam proses pembalikan kesadaran epistemologis ini, program islamisasi menjadi satu bagian kecil dari upaya besar pemecahan "masalah ilmu."

Naquib, seperti disinggung di atas, juga memberi perhatian besar pada nilai-nilai Melayu. Pemikir ini berpendapat, jati diri Melayu tak terpisahkan dengan Islam. Bahkan menurutnya, kemelayuan itu dibentuk oleh Islam. Bukti-bukti yang diajukannya bukan berdasarkan peninggalan-peninggalan fisik, tapi terutama berkaitan dengan pandangan dunia orang melayu.

Ia berpandangan, dakwah Islam datang ke wilayah Melayu sebagai "Islamisasi". Proses ini, ujarnya, berjalan dalam tiga periode dan tahap yang serupa dengan ketika Islam mempengaruhi Abad Pertengahn Eropa. Segenap apa yang dilakukan Naquib jelas menunjukkan komitmennya tentang upaya peradaban Islam tampil kembali ke permukaan dan mewarnai kancah pergaulan.

Hingga kini, Naquib masih terus menulis. Ia tergolong intelektual yang produktif. Puluhan buku telah ia tulis, antara lain: Rangkaian Ruba'iyat; Some Aspects of Shufism as Understood and Practised Among the Malays; Raniri and the Wujudiyyah of 17th Century Acheh; The Origin of the Malay Sya'ir; Preliminary Statement on a General Theory of the Islamization of the Malay-Indonesia Archipelago.

Selain itu, ia juga menulis Islam Dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu; Risalah untuk Kaum Muslimin; Islam, Paham Agama dan Asas Akhlak; Islam and Secularism; The Concept of Education in Islam; The Nature of Man and the Psychology of the Human Soul; dan The Meaning and Experience of Happiness in Islam.

Sebagian dari karyanya tersebut telah diterjemahkan ke beberapa bahasa, seperti Inggris, Arab, Persia, dan Indonesia. Di usianya yang uzur kini, pemikir yang banyak pengaruhnya dalam kancah intelektualisme kontemporer ini terus aktif merealisasikan gagasan dan pemikirannya melalui lembaga ISTAC.

Minggu, 19 Juni 2011

BERAKHLAK BAIK

 Kebelakangan ini kita dihadapkan berbagai masalah sosial yang membelenggu kehidupan masyarakat disekeliling kita.Namun kita sering sekali terlupa bahwa berbagai permasalahan tersebut timbul dikeranakan lunturnya akhlak terpuji yang ada pada jiwa seseorang tersebut.Mendidik diri untuk memiliki akhlak yang terpuji merupakan sesuatu yang harus kita utamakan dalam kehidupan ini. Dan kunci akhlak yang baik itu ialah shalat dan ilmu pengetahuan.

Keseimbangan antara ilmu pengetahuan dan amal ibadah merupakan teras utama untuk melahirkan insan yang berakhlak baik. Begitu pula jika keduanya tiada seiring maka tentunya akan terjadi kepincangan.Ilmu tanpa amal tak berguna dan amalan yang dikerjakan tanpa ilmu juga sia-sia. Oleh itu sebagai seorang mukmin kita dianjurkan untuk menuntut ilmu pengetahuan sebanyak-banyaknya dan mengerjakan ketakwaan dengan penuh keikhlasan yang hanya ditujukan kepada Allah.

Jumat, 01 April 2011

MASA YANG BERGANTI

Sesungguhnya waktu merupakan sesuatu yang sangat berharga dalam kehidupan ini. Dalam pemanfaatannya merupakan penentu kebahagiaan dimasa sekarang hingga masa hadapan, bahkan dikehidupan dunia hinggalah diakhirat kelak.Sebab itulah Islam menegaskan kepada kita semua untuk berusaha memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya dengan mengerjakan sesuatu yang berfaedah dan berlandaskan konsep ibadah agar kita dapat meraih kebahagiaan yang hakiki.

Masa yang dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya akan melahirkan kebahagiaan sedangkan masa yang disia-siakan itu akan membuahkan penyesalan.Waktu itu laksana pedang,jika kita tidak dapat mempergunakannya dengan sebaik-baiknya ia akan membuahkan kesengsaraan.Sebelum terlambat hendaknya kita memiliki kesedaran untuk mempergunakan masa yang ada dengan sebaik-baiknya dengan berlandaskan syariat islam agar kita tidak menyesal dibelakang hari.

Waktu adalah SESUATU,
Yang engkau berada di dalam sesuatu tersebut.
Apabila engkau berada di dunia,
waktumu DUNIA.
Apabila engkau berada di akhirat,
maka waktumu AKHIRAT.
Apabila engkau berada dalam kebahagiaan,
waktumu KEBAHAGIAAN.
Dan apabila kamu berada dalam kesedihan, waktumu KESEDIHAN.
(Imam Ibnu Qayyim).

WAKTU=KUNCI KESUKSESAN
Bagi mereka yang ingin meraih kejayaan maka ia dituntut untuk memanfatkan waktu dalam mengerjakan segala syarat sebuah kesuksesan.Waktu laksana anak kunci yang menbuka gerbang suatu jalan menuju kesuksesan.Tanpa pemanfaatan waktu yang digunakan dengan sebaik-baiknya mustahil kesuksesan dapat diraih walaupun seseorang itu memiliki berbagai teori menuju sukses.

Dalam Islam kita sudah diingatkan tentang lima perkara sebelum lima perkara yang semuanya itu berkaitan dengan perintah mempergunakan masa dengan sebaik-baiknya.Seperti : Muda sebelum Tua,Lapang sebelum Sempit,Sehat sebelum Sakit,Kaya sebelum Miskin dan Hidup sebelum Mati. Maka jika masa ini dipergunakan dengan sebaik baiknya tentunya akan menbuahkan kebahagiaan dan kejayaan. Sedangkan jika masa tersebut disia-siakan tentunya akan menimbulkan penyesalan dan kesengsaraan.

Pemanfaatan masa yang sebaik-baiknya bukan saja untuk meraih kabahagiaan dan kejayaan didunia saja bahkan kesejahteraan dan keselamatan diakhirat kelak bergantung bagaimana seseorang itu mempergunakan masa hidupnya didunia ini demi mengumpul bekal amal dan ibadah kepada Allah demi meraih kejayaan hidup di alam akhirat.Ketahuilah masa yang lalu tak dapat kembali lagi maka jadikanlah masa yang berganti sebagai anugerah dan nikmat demi meningkatkan kualiti diri menjadi seorang insan yang berbakti,mengabdi kepada Illahi.

PERANAN IBADAH DALAM KEHIDUPAN

Sebagai seorang hamba, manusia mempunyai tanggung jawab untuk mengabdi kepada Allah swt. Dan pengabdiannya itu tercermin melalui ibadah yang dikerjakannya. Secara khusus ibadah yang dikerjakan dengan diiringi sifat mulia seperti: sabar,ikhlas,istiqamah,dan penuh kejujuran dengan ketulusan niat semata-mata hanya kerana Allah ternyata memiliki manfaat yang begitu besar dan baik bagi mereka yang mengerjakannya. Sebab itulah ibadah menjadi penentu bagi kehidupan seorang insan.

Sekarang ini kita sering dihadapkan oleh berbagai masalah yang mewarnai kehudupan ini.Walaupun tidak sebesar dan sepahit yang dihadapi oleh umat terdahulu.Sesungguhnya berbagai masalah yang mewarnai dalam kehidupan kita merupakan ujian yang datangnya dari Allah swt. baik itu menyenangkan ataupun menyedihkan, suka ataupun duka tentunya silih berganti namun itulah resam kehidupan bergantung bagaimana kita menyikapinya.Sebab itulah ibadah menjadi penentu dalam keberhasilan insan menyikapi dan mencari solusi dalam menghadapi berbagai permasalahan yang sedang dihadapinya.

Sesungguhnya ibadah berperan sebagai penentu kebahagiaan dan kesejahteraan. Bukan hanya pada individu bahkan ianya juga mempengaruhi kebahagiaan dan kesejahteraan suatu keluarga,masyarakat,bangsa dan negara sehingga membangun tamadun yang madani.Fakta utama yang dapat kita lihat bersama dan melibatkan berbagai aspek ialah ancaman gejala sosial dalam berbagai kategori yang kian membara ditengah-tengah kita.Dan jika hal ini kita renungkan dengan kejernihan jiwa maka jawabnya ialah berkaitan dengan pelaksanaan ibadah yang diabaikan, sehingga berdampak lahirnya berbagai perbuatan maksiat.

Kelalaian yang disengaja dalam tanggung jawab mengerjakan ibadah untuk mengabdikan diri semata-mata kepada Allah ternyata menjadi penyebab utama dalam melakukan berbagai perbuatan maksiat.Jika perbuatan maksiat itu telah merebak kemana-mana tentunya ia akan menimbulkan keresahan bagi kita semua.Oleh itu kesadaranlah yang menjadi kunci utama dalam membuat suatu perubahan.

Bukankah kesenangan dunia ialah pancaroba.Oleh itu kita harus sentiasa berwaspada terhadap bisikan dunia kerana jika ia diturutkan akan membuahkan penyesalan.Kesenangan dunia yang merayu sering kali menjerumuskan manusia kejurang kebinasaan dan kesengsaraan yang penuh penyesalan.

Kefahaman seseorang terhadap islam yang dangkal dan tidak adil sering kali menimbulkan kekeliruan,bahkan para pemikir Barat tidak sepakat dalam memberikan defenisi agama,philosof-philosof mereka juga memberikan defenisi masing-masing dan menyifatkan agama dari sudut pandang yang berbeda-beda.Ada diantara mereka yang mengatakan agama itu tidak lebih dari pada konsep morality/akhlak,ada juga yang mengatakan agama itu sesuatu yang menyentuh hal-hal ruhaniyyah/spiritual sahaja,dan ada pula yang mendefinisikan agama dengan ritual/upacara penyembahan.

Agama Islam itu mudah dan jelas,bersesuaian dengan akal dan fitrah manusia,agama yang secara sah dan rasmi diturunkan Allah swt.Syari'at yang ada di dalamnya adalah wahyu dan bukan ciptaan manusia dan bukan pula rekaan Nabi (Yunus:15)

Agama Islam juga bercirikan al-wasatiyyah atau tawazun (moderate). Posisi Islam tidak terlalu menumpukan pada ruhaniyyah sehingga melupakan material, Islam merangkumi dunia dan akhirat tidak menumpukan pada akhirat sehingga melupakan dunia dan Islam juga tidak menghinakan dunia, akan tetapi menempatkannya pada tempat yang betul. Islam juga  memberikan gambaran yang tidak ekstrim dalam sesuatu hal tetapi tegas dalam hal yang berkaitan dengan prinsip, individu dan masyarakat sama pentingnya tidak boleh mengorbankan maslahah orang ramai demi kepentingan individu tetapi tidak pula maslahah orang ramai dijadikan legalisasi untuk mengorbankan kepentingan individu.
Agama Islam bersifat teguh dan tidak berubah. Syari’at yang Allah tetapkan tidak akan berubah, ini berbeza dengan undang-undang manusia yang selalu berubah dan  dipinda. Tidak ada yang kurang lengkap atau yang salah dalam Syariat Allah, adapun yang berkembang dalam fiqih Islam itu adalah Ijtihad, masing-masing ulama berijtihad sesuai dengan keadaan dan perkembangan semasa, dengan syarat tidak bercanggah dengan nash yang telah ada dalam Qur’an dan Sunnah.

Dari kajian tentang agama tadi kita dapat menyimpulkan bahawa Islam bukanlah sekadar agama yang membangun spiritual sesuatu masyrakat, Islam tidak cukup dengan menjalankan solat lima waktu, puasa, zakat dan Haji. Pandangan yang sempit terhadap Islam adalah hasil sekularisasi, dengan tidak disedari telah merasuk kedalam pemikiran ummat Islam.

Lebih daripada itu Islam adalah cara hidup (way of life). Agama Islam memberi jawapan kepada pertanyaan abadi  kehidupan (eternal question of life ) pertanyaan tersebut adalah darimanakah asal-usul manusia? Kemanakah mereka akan pergi dan apakah arti kehidupan ini?. Dari mula lagi Islam telah  memberikan jawapan kepada persoalan tersebut dengan jelas. Bahkan menyediakan jalan bagaimana manusia harus hidup agar mereka tidak sia-sia dan sesat dengan menerangkan bahwa satu-satunya cara untuk selamat adalah dengan menuju kearah al-sirat al-mustaqim (jalan yang lurus)

Selain mambangun insan yang bermoral Islam juga membangun tamadun yang luhur, Islam tidak sepatutnya dipisahkan dari politik dan kemasyarakatan. Manusia sebagai khalifah berfungsi untuk memastikan hukum Syari’at Allah berlaku di bumi ini. Hal ini dibuktikan dengan fakta bahwa nabi sendiri membangun sebuah negara dan mengatur sistem kemasyarakatan (sosial order). Bahkan sebenarnya Islam tidak dapat dilaksanakan sepenuhnya tanpa tegaknya negara Islam yang bertanggungjawab melaksanakan Syari’at Allah.

Konsep Ibadah dalam Islam jauh lebih luas daripada apa yang dinamakan sembahyang dalam sesuatu agama. Worship atau  sembahyang tidak dapat disamakan dengan ibadah. Ibadah sepertimana yang dijelaskan oleh Ibnu Taimiyyah adalah istilah yang merangkumi segala perbuatan yang disenangi dan diredhai Allah S.W.T. Oleh kerananya ibadah itu dapat terlaksana dengan mematuhi segala apa yang diperintahkan Allah. Dengan kata lain Ibadah merupakan gambaran yang menyeluruh daripada agama (ad-din).

Secara umum ibadah dapat berperan sebagai alat untuk menumbuhkan kesadaran pada diri manusia bahwa ia sebagai insan diciptakan Allah khusus untuk mengabdi kepada-Nya.Dan segala ibadah yang dikerjakannya itu semata-mata demi mendapatkan Kerdhaan-Nya yang pelaksanaanya diiringi dengan kesempurnaan sifat yang mahmudah.