Jumat, 03 September 2010

Pentingnya Meninggalkan Dosa dan Kemaksiatan Bagi Seorang Penuntut Ilmu

Dosa dan kemaksiatan adalah sumber dari setiap kejahatan dan musibah yang terjadi di dunia, baik secara pribadi maupun umat. Firman Allah Ta’ala, “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia.” (QS. Ar-Rum: 41)

Diantara akibat dosa dan kemaksiatan adalah seseorang terhalang dari menuntut ilmu syar’I, serta mudah lupa akan ilmu yang telah dihafalnya. Sesungguhnya ilmu syar’I adalah sesuatu yang mulia dan berharga, yang tidak mungkin menetap di hati seseorang yang dipenuhi nafsu-nafsu syahwat, kemaksiatan, dan kemungkaran. Hal itu disebabkan karena kemuliaan tidak mungkin berada disatu tempat bersama kotoran ataupun kejelekan. Setiap hamba yang bermaksiat kepada Tuhannya, maka ilmu yang ada dalam hatinya akan pergi seukuran maksiatnya. Demikian pula cahaya pemahaman ilmu syar’I di dalam hatinya akan padam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya seorang hamba terhalang rizkinya karena dosa yang dia lakukan.” (HR. Ahmad dan Hakim)

Rizki meliputi rizki badan, yaitu berupa harta, makanan, dan minuman. Sedangkan rizki ruh meliputi ilmu, ma’rifatullah, dan kenikmatan mengingat-Nya. Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, “Saya menganggap orang yang melupakan ilmu yang telah dia ketahui, hal itu karena dosa yang telah ia lakukan.”
Setiap kali Imam Abu Hanifah menemukan kesulitan dalam suatu masalah, maka beliau berkata kepada muridnya, “Semua ini karena dosa yang saya lakukan.” Kemudian beliau beristighfar, terkadang berdiri lalu shalat hingga terbuka baginya permasalahannya. Beliau rahimahullah berkata, “Saya berharap Allah sudah menerima taubat saya.”
Ali bin Khasyram berkata, “Saya melihat Waki’ bin Al-Jarrah tidak pernah membawa kitab ditangannya (karena hafalannya kuat, sehingga tidak perlu membacanya dari kitab. Semua telah beliau hafal di dalam hatinya). Saya bertanya kepadanya tentang resepnya. Beliau berkata, ‘Dengan meninggalkan maksiat, saya mendapatkannya begitu mujarab untuk menghafal.’”
Ibnu Jauzi menjelaskan dampak dari perbuatan maksiat. Beliau berkata, “Berhati-hatilah dari maksiat. Karena akibatnya sangat jelek. Berhati-hatilah dari dosa, khususnya dosa khalwat, karena perkelahian dengan Allah-lah yang menyebabkan seorang hamba jatuh dihadapan-Nya. Berhentilah dari dosa, betapa jelek akibat dan ceritanya. Syahwat tidak didapatkan kecuali seukuran kuatnya kelalaian.” Seseorang bertanya kepada Imam Malik, “Wahai Abu Abdillah, apa yang membuat hafalan menjadi baik?” Beliau menjawab, “Kalau ada sesuatu yang bisa membuat hafalan baik, itu adalah meninggalkan maksiat.”
Syaikh Musthafa As-Siba’I berkata, “Apabila Anda ingin bermaksiat, maka ingatlah diri Anda kepada Allah. Apabila tidak bisa kembali, maka ingatlah akhlak orang-orang besar. Apabila tidak bisa kembali, ingatlah kejelekan (maksiat) bila itu diketahui orang-orang. Apabila tidak kembali, ketahuilah disaat itu Anda telah berubah menjadi seekor binatang.”

Sumber:
Abu Qa’qa Muhammad bin Shalih Alu Abdillah, 102 Kiat Agar Semangat Belajar Membara: Elba

Perhatian Luar Biasa Terhadap Hadits Nabi 

Sumber hukum dan ilmu yang paling otentik bagi umat Islam adalah Al-Qur'an dan Hadist Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam. Allah telah memberikan kepada umat kita para pendahulu yang selalu menjaga Al-Qur'an dan Hadits Nabi. Mereka orang-orang yang jujur, amanah dan memegang janji. Sebagian mereka mencurahkan perhatiannya terhadap Al-Qur'an dan ilmunya, yaitu para Mufassir dan sebagian memprioritaskan dalam menjaga Hadits Nabi, mereka adalah ahli Hadits.

Para sahabat, tabi'in dan tabi'ut tabiin memiliki perhatian sangat besar dalam menjaga hadits-hadits Nabi dan periwayatannya dari generasi ke generasi. Mereka selalu mengajak untuk mengikuti cara hidup dan perilaku Rasulullah sebagaimana firman Allah :

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

"Telah ada pada diri Rasulullah teladan yang baik bagi kalian" (QS Al-Ahzab:21)


Mereka juga diperintahkan untuk mengerjakan apa yang dibawa oleh Nabi dan dilarang mengerjakan semua larangan beliau,


وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا

"Dan Ambillah apa yang datang kepadamu dari Rasul dan tinggalkan apa yang dilarang untukkmu (QS Al-Hasyr:7)


Keteladanan mereka lepada Rasulullah sangat luar biasa, sehingga tidak pernah bertanya tentang sebab atau musabab dari perbuatan beliau.

Diriwayatkan dari Al-BUkhari dari Ibnu Umar radhiyallahu Anhu berkata bahwa Rasulullan Shallallahu a'alaihi wasallam mengenakan cincin dari emas, lalu orang-orang mengenakan juga dari emas. Kemudian Nabi membuangnya dan bersabda,
"Aku tidak akan mengenakannya untuk selama-lamanya", maka mereka pun membuang cincin tersebut.
Ibnu Hajar berkata, "Hadist ini menunjukkan bahwa para sahabat selalu bergegas untuk meneladani semua perbuatan Rasulullah. Selama beliau menetepkan mereke mengikutinya, dan ketika beliau melarang mereka meninggalkannya" [1]


Dari Jabir, bahwasannya ia pernah pergi ke Syam untuk meriwayatkan satu hadist dari Abdullah bin Unai [2]
Dan Abu Ayyub berangkat dari Madinah menuju Mesir hanya untuk meriwayatkan sebuah Hadits dari Uqbah bin 'Amir [3]


Para tabi'in dan para pengikutnya tidak kalah "tamaknya" dalam mencari hadits dari para sahabat. Mereke mengikuti jejak dan langkah para sahabat. Said bin Al-Musayyib, salah satu tabi'in senior berkata, " Untuk mendapatkan satu hadits, aku rela menempuh beberapa hari perjalan siang malam" [4]


Amir as-Sya'bi, berangkat ke Makkah untuk mendapatkan tiga hadits yang pernah diceritakan kepadanya dengan harapan dapat bertemu dengan salah satu sahabat lalu bertanya tentang hadits-hadits tersebut.


As-Sya'bi menceritakan sebuah hadits kepada seorang lalu berkata kepadanya, "Aku berikan ini kepadamu secara cuma-cuma, yang pernah didapatkan dengan menempuh perjalanan ke Madinah"


Itulah sebagian kecil contoh perbuatan para salafus shalih terhadap sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam. Semoga bisa manambah semangat kita untuk memperdalam Sunnah-sunnahnya.
----------------------------------------------------------
[1] Fathul Baari sharah Shahih Bukhari. Ibnu Hajar Al-Asqalany, 1/321, cet. Salafiyah
[2] Diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Ya'la
[3] Diriwayatkan oleh Ibnu Abdir Barr dalam Jami' Bayan Al-Ilmi wa Fadhilihi
[4] Diriwayatkan oleh ArRahmahurmuzi dalam Al-Muhaddits Al-Fashil dan diriwayatkan pula oleh Ibnu Abdil Barr
Sumber : Pengantar Studi Ilmu Hadits, Syaikh Manna' Al-Qaththan, Hlm 19-21, Pustaka Al-Kautsar 2005

Su’ul Khatimah

Setiap manusia tentu mengharapkan kelak agar ia dapat mati dalam keadaan yang baik (husnul khatimah). Namun ternyata, keadaan akhir yang baik tersebut bukanlah suatu perkara yang mudah untuk digapai. Hanya orang-orang yang memiliki keimanan dan keistiqomahan yang kuat lah yang mampu menggapai akhir kehidupan yang baik. Akhir kehidupan yang buruk (su’ul khatimah) merupakan suatu bencana yang sangat besar bagai seorang muslim karena ia menjadi tanda awal petaka bagi perjalanan hidup selanjutnya menuju akhirat. Shiddiq Hasan Khan menceritakan bahwa, “Su’ul khatimah memiliki sebab-sebab yang harus diwaspadai oleh seorang mukmin.” Kemudian beliau pun menyebut sebab-sebab seseorang tertimpa su’ul khatimah.
Kerusakan Akidah
Kerusakan dalam akidah, walaupun disertai dengan zuhud dan kesalehan yang sempurna, maka hal tersebut dalam menyebabkan seseorang terkena su’ul khatimah. Jika ia memiliki kerusakan dalam akidahnya dan ia meyakini serta tidak menyangka bahwa hal tersebut sebagai suatu kesalahan, maka terkadang kekeliruan akidahnya itu akan tersingkap pada saat dirinya mengalami sakratul maut. Setelah tersingkap, maka kerusakan sebagian akidahnya menyebabkan terhapusnya akidah lainnya. Dengan demikian, bila ia wafat dalam keadaan seperti ini sebelum ia menyadari dan kembali kepada iman yang benar, berarti ia mendapatkan su’ul khatimah dan wafat dalam keadaan tanpa iman. Selain itu, ia termasuk orang yang disebut oleh Allah dalam ayat, “Dan jelaslah bagi mereka azab dari Allah yang belum pernah mereka perkirakan.” (QS. Az-Zumar: 47), dan ayat, “Katakanlah, ‘Apakah akan kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?’ Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan ini, padahal mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (QS. Al-Kahfi: 103-104).
Jadi, setiap orang yang memiliki akidah yang keliru, baik karena pendapatnya sendiri atau mengambil pendapat orang lain, maka ia berada dalam bahaya besar, dan zuhud serta kesalehannya akan sia-sia.
Maksiat
Banyak melakukan maksiat, maka kemaksiatan itu akan terus menumpuk dalam hatinya, dan memori terhadap kemaksiatan itu akan terungkap pada saat ia menghadapi kematian. Sebaliknya, jika seseorang cenderung pada ketaatan, maka kebaikan akan banyak hadir dalam memorinya disaat ia menghadapi kematian. Imam Adz-Dzahabi berkata, “Tidaklah seseorang itu mati kecuali ditampilkan kepadanya orang-orang yang biasa ia gauli. Seorang lelaki yang suka bermain catur, maka ketika ia sekarat kemudian dikatakan kepadanya, “Ucapkanlah la ilaha illah Allah.” Ia akan menjawab, “Skak!” kemudian ia mati. Jadi, yang mendominasi lidahnya adalah kebiasaan yang sering ia lakukan selama hidupnya. Akibatnya, pada akhir hayatnya ia mengganti kalimat tauhid dengan kalimat “skak”. Ini seperti orang yang kawan-kawannya adalah pemabuk. Saat sekarat, seseorang datang untuk mengajarkannya kalimat syahadat, tetapi ia malah berkata, “Mari minum dan tuangkan untukku!” Kemudian ia mati.
Tidak Istiqamah
Sungguh seseorang yang istiqamah pada awalnya, lalu berubah dan menyimpang dari awalnya bisa menjadi penyebab ia mendapat su’ul khatimah, sebagaimana iblis yang pada mulanya merupakan pemimpin dan guru malaikat yang banyak ibadah. Tapi tatkala ia diperintahkan oleh Allah untuk sujud kepada Adam, ia kemudian membangkang serta menyombongkan diri hingga akhirnya pun iblis dimasukkan kedalam golongan kafir.
Iman yang Lemah
Iman yang lemah dapat melemahkan cinta kepada Allah dan menguatkan cinta dunia dalam hatinya, bahkan kelemahan imannya itu dapat menguasai dan mendominasi dirinya sehingga tidak tersisa dalam hatinya tempat untuk cinta kepada Allah kecuali sedikit saja. Lemahnya iman dalam diri seseorang dapat menjerumuskan ia dalam lembah nafsu syahwat dan maksiat, sehingga noda dosa dalam hatinya akan menumpuk sehingga akhirnya akan memadamkan cahaya imannya. Akhirnya, jika ia mati dalam keadaan iman yang sangat lemah ini, maka ia akan terancam diakhir hayatnya tertimpa su’ul khatimah.
Hal utama yang menyebabkan seseorang terkena su’ul khatimah adalah karena kecenderungan hatinya cinta pada dunia. Cinta dunia adalah penyakit hati yang umumnya menimpa manusia. Jadi, orang-orang yang menjelang kematiannya, sedangkan hatinya dikuasai oleh kecintaan terhadap dunia, maka roh yang keluar dari jasadnya kelak akan tunduk pada dunia dan terhalang dari Tuhannya.
Betapa menyedihkan ketika seseorang hidup di dunia bergelimang harta dan tahta, namun harus menghadapi akhir hayatnya dalam keadaan yang hina. Sesungguhnya rahmat dan ampunan Allah begitu luas, sehingga tidak mengenal kata terlambat memohon keselamatan pada-Nya agar kelak kita dapat mengakhiri hidup ini dalam keadaan yang diridhoi-Nya.

Dasar Lidah Tak Bertulang 

 TERKESIAP. Suatu saat mata ini terantuk pada sebuah bab di bukunya Dr. Abdullah bin Muhammad As-Sadhaan [1], terkesiap mata dibuatnya, terhenyak kalbu dibikinnya, kelu pikiran seakan berhenti melintas. Pembicaraan bab berkisar antara mulut, lidah dan segala yang keluar dari padanya. Perkara yang sepele remeh-temeh tersebar di masyarakat yang sangat kuat budaya verbal-nya ini ternyata mengandung perkara yang berat dalam timbangan syariat. Berikut kami paparkan dua permasalahan:

I. Bencana datang karena ucapan

Tidaklah timbul celaan pada saudaramu, kemudian Allah berikan rahmat padanya dan timpakan cobaan padamu” [2]. Yang dimaksud dengan celaan adalah seorang muslim yg menjelek-jelekkan saudaranya sesama muslim karena suatu dosa, padahal ia sudah bertaubat daripadanya, atau mengolok-olok fisik, gaya bicara, atau gerakannya. Ini adalah perkara yang berbahaya. Sedikit sekali orang yang waspada dari perkara ini. Dalam sebuah atsar: “Barangsiapa mencela saudaranya karena suatu dosa, maka ia tidak akan mati sebelum melakukannya” [3].

Berkata Imam Ahmad: "Aku mendengar al-Hasan berkata: "Kami memperbincangkan bahwa siapa yang menjelek-jelekkan saudaranya karena suatu dosa yang ia sudah bertaubat pada Allah darinya maka Allah Subhanahu wa Ta'ala akan memberi cobaan padanya" [4]. Berkata Ibnu Sirin: "Aku pernah mencela seseorang karena kerugian, maka aku mengalami kerugian!". Berkata Ibnul Jauzi: Berkata seseorang: Aku mencela seseorang yang sebagian giginya sudah tidak ada, maka gigiku bertaburan !” [5].

Nah, jika anda merasakan banyak masalah, ruwetnya problematika kehidupan, seringnya cobaan menyapa, seakan akan setiap tarikan nafas kita adalah masalah dan masalah. Maka perlu diteliti jangan-jangan kita telah salah dalam berucap. Jangan-jangan saking mudahnya lisan kita ceplas-ceplos hingga ada kata-kata tidak sedap yang nyangkut di hati saudara kita. Apalagi di era yang sangat mengagung-agungkan kebebasan berekspresi kini. Seakan kebebasan itu menjadi tameng mengumbar kata-kata kurang manfaat. Khususnya keadaan disekitar kita, bangsa kita, jangan-jangan bangsa yang bisanya “cuma omong doang" pintar berkoar dan suka ribut itu kian bertumpuk cobaan dan masalah dikarenakan mulut-mulut dan lidahnya kurang dijaga. Wallahu musta’an.

Bukankah para Nabi dan orang-orang shalih juga banyak cobaan dan masalah? Bahkan semakin tinggi tingkat keshalihan seseorang, maka semakin berat dan pelik permasalahan yang akan dihadapinya? Iya benar, tapi bedanya adalah sebab datangnya ujian dan cobaan tersebut, juga “sikap hati” dalam menghadapi cobaan dan masalah tersebut. Lalu penerapan syariat dalam mengurai, mengunyah, dan menelan serta reaksi yang timbul sesudahnya. Paham?

Diriwayatkan dari sebagian pendahulu yg shalih: "Seandainya aku mengejek seekor anjing, tentu aku khawatir diriku menjadi anjing". Demi Allah, ini adalah hal yang nyata dan akibatnya nyata baik terhadap orang yang mencemooh atau pada keturunannya. Ini semua adalah akibat buruk dari maksiat dan berbagai kepahitan yang ditimbulkan olehnya. Tidak ada yang bisa menolak bala ini kecuali doa yang agung ini: "Segala puji bagi Allah yang melepaskanku dari apa yang telah menimpamu dan melebihkanku dari kebanyakan makhluknya". Nabi bersabda: "Barangsiapa yang mengucapkannya tidak akan tertimpa bala tersebut" [6].

Beken dan popular, bahkan cenderung lumrah di kalangan kita, tidak saja mengejek binatang dan makhluk tak berakal lainnya, tetapi binatang dan makhluk tak berakal itu digunakan sebagai martir kosakata dalam bersilat lidah dan penyedap bumbu percakapan. Dan kini makin kreatif dalam variasinya, percaya atau tidak?

Kemudian marilah merenungkan doa diatas.

II. Laknat dan akibat buruknya

Laknat sering dijumpai pada kebanyakan omongan manusia. Ini adalah salah satu bala yang meluas. Benarlah hadits nabi Muhammad SAW ketika di tanya tentang orang-orang yang suka melaknat, beliau menjawab : "Manusia di akhir zaman, ucapan salam yang mereka ucapkan di saat bertemu adalah : saling melaknati" [7].

Laknat, umpatan, sumpah serapah dan sejenisnya makin nge-trend di masyakat kita. Coba anda lakukan pengamatan kecil-kecilan, gunakan seluruh panca indera sampeyan, ambil waktu rentang sehari, catatlah sekian banyak hujatan, laknat, umpatan dan semisalnya yang anda jumpai hari itu. Pasti akan berderet panjang daftarnya, dan akan bertambah panjang jika anda melengkapi dengan hasil dari media massa cetak dan elektronik serta cyber-internet. Pas sudah sinyalir statemen Rasulullah tersebut diatas.

Perhatikan akibat buruk dari laknat dalam hadits ini, dari Abu Darda' bahwa Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya bila ada seseorang yang mengutuk sesuatu maka kutukan itu naik ke langit, tetapi pintu-pintu langit itu ditutup tidak mau menerima kutukan tersebut, kemudian kutukan itu turun ke bumi tetapi pintu-pintu bumi itu ditutup tidak mau menerima kutukan tersebut. Lantas kutukan itu lari ke kanan dan ke kiri, apabila kutukan itu tidak mendapat tempat maka ia mencari orang yang dikutuknya, bila orang itu pantas mendapat kutukan, maka ia menimpa orang itu, tetapi bila orang itu tidak pantas mendapat kutukan maka ia kembali kepada orang yang mengucapkan kutukan tersebut" [8].

Lebih dari itu, laknat menyebabkan pelakunya diharamkan dari mati syahid dan syafaat, sebagaimana dalam hadits Abu Darda : Aku mendengar Rasulullah bersabda: "Orang-orang yang suka melaknat itu tidak bisa memberikan syafaat dan tidak pula meraih syahid" [9].

Termasuk dalam hal ini bila yang dilaknat tidak berakal (hewan, benda dll–pent), sebagaimana tersebut dalam hadits Ibnu Abbas tentang seseorang yang melaknat angin, maka Nabi bersabda: "Jangan engkau melaknatnya, karena sesungguhnya ia diperintah. Barangsiapa yang melaknat sesuatu yang tidak semestinya, maka ia akan kembali pada orang yang mengucapkannya" [10].

Demikianlah kengerian akibat laknat dan kutukan, padahal ianya berasal dari sebongkah lidah tak bertulang. Ringan tanpa beban saat mengucapnya, tapi berat menggunung akibatnya, terlebih konsekuensi syariat dibelakangnya. Jangankan meraih syahid, malahan akan balik menjadi boomerang mengenai diri sendiri kutukan dan laknat itu sekecil apapun. Ayo dipikir-pikir sendiri…pernahkah kita terceplos kalimat atau kata terkategorikan laknat dan kutukan walau secuil?

Termasuk dari dosa yang terbesar bila seorang anak melaknat kedua orang tuanya dengan cara tidak langsung, sebagaimana diberitakan oleh Nabi: "Seseorang yang mencela ayah orang lain, lalu orang yang di cela itu mencela ayahnya, dan ia mencela ibu orang lain, lalu orang yang di cela tersebut membalas dengan mencela ibu (orang yang mencela)" [11].

Dikiaskan dengan perbuatan laknat ini adalah memfasikan atau mengkafirkan seorang mukmin [12].

Nah, inilah jeratan halus bagi para pencela, benar ianya tidak langsung mencela kedua-orangtuanya sendiri (bahkan agama anutannya), tapi perbuatan mencela orang-tua orang lain, serta agama lain akan membalik kepada dirinya sendiri. Terlebih belitan “ghuluw” di zaman kita makin kuat. Hingga muncullah model manusia-manusia tukang cela berdalih agama, maksud hati pengen tampak ilmiah dan tegas dimata insan, tapi panggang jauh dari apinya. Maka makin berhati-hatilah terhadap lisan tak bertulang yang kita miliki.

Ngeri…ngeri…dan ngeri. Itulah gambaran yang kita dapatkan dari dampak buruk mulut dan lisan. Maka berhati-hatilah mulai sekarang. Biarlah kita diam seribu bahasa, daripada dampak buruk tersebut diatas menimpa kita. Biarlah kita dicap pendiam dan pengecut, jikalau bayarannya adalah ngomong tak ada manfaat. Biarlah disindir sebagai orang “lemah” jika maksudnya supaya kita jadi manusia “banyak mulut”. Mainstream media saat ini adalah ajakan mengeluarkan pendapat, ekspresif , kebebasan, dan liberal tanpa kungkungan apapun, tapi artikel ini berusaha melawan arus kuat itu. Semoga saya dan anda bisa mengambil hikmahnya. Wallahu a’lam.

Catatan kaki:
[1] Dampak Negatif Kemaksiatan, Abdullah bin Muhammad as-Sadhan, Riyadh, 1421H.
[2] HR. Tirmidzi, Thabrani dan lainnya dari Mu'adz secara marfu'. Tirmidzi mengatakan: Hadits hasan gharib. Lihat : Tamyiiz ath-Thayyib minal khabits, oleh Abdurrahman al-Atsari hal : 171, dan lihat pula : al-Adzkaar oleh an-Nawawi hal : 542.
[3] HR. Tirmidzi.
[4] Kitab az-Zuhd oleh Imam Ahmad hal : 342.
[5] Shaidul Khatir, Ibnul Jauzi hal : 391
[6] 42 Al-Fawaaid, Ibnul Qayyim hal : 257, Ucapan Ibnu Mas'ud dalam Siyar a'laam an-Nubala 1/496
[7] HR. Ahmad, Thabrani dan Hakim. Lihat : Majmu' akhbaar akhir zaman, oleh al-Musy'ili, hal : 129
[8] HR. Abu Dawud, lihat Shahih Sunan Abu Dawud oleh al-Albani, No: 4905
[9] HR. Muslim dan Abu Dawud, lihat Shahih Sunan Abu Dawud oleh al-Albani, No: 4907
[10] Mukhtasar Shahih Sunan Abu Dawud, al-Albani hal : 3/927, No: 4101
[11] Mukhtasar Shahih al-Bukhari, oleh az-Zubaidi, hal : 466, No: 3007
[12] Berdasarkan hadits nabi: "Tidaklah seseorang memfasikan atau mengkufurkan seseorang melainkan hal itu akan kembali padanya, jika orang yang dituduhkan itu tidak demikian". Mukhtasar Shahih al-Bukhari hal : 469, No: 2030

Yokohama, 20 Oktober 2009
M. A. Bramantya 

Dosa 

Manusia bukanlah sosok makhluk yang sempurna. Ia senantiasa terjerumus dalam lupa dan dosa. Tak pernah sedikitpun ia kan terluput dari segala macam kesalahan. Salah, menjadi suatu hal yang dibenci, namun merupakan suatu keniscayaan yang akan manusia alami. Akan tetapi, kesalahan dalam suatu kemaksiatan memberi citra yang kelam bagi diri seseorang.
Kemaksiatan tidak hanya menghapuskan akumulasi pahala yang telah kita kumpulkan, namun terkadang pula menjadikan seseorang putus asa untuk meraih tujuan hidupnya. Acapkali seseorang yang terbelenggu dalam maksiat menjadi hilang dalam menggapai asa, seolah runtuh sudah pondasi kebajikan yang selama ini ia bangun dengan jerih payah. Kemaksiatan memang selalu menghantui manusia dengan derita. Derita berupa siksa dan azab yang siap turun entah dari langit atau bumi datangnya. Padahal, pada saat kita terjerat dalam kemaksiatan, kita tentu belum siap untuk menghadapi kebinasaan.



Kemaksiatan memang merupakan derita yang tiada tara. Diri kita dibuatnya menjadi pecundang dan pengecut dalam menghadapi kematian. Tak hanya itu, kemaksiatan juga meninggalkan noktah-noktah hitam dalam hati kita, menjadikan diri kita sebagai sosok yang keras, kaku, dan kasar. Hilanglah dari dalam diri kita sifat kelembutan, kebijaksanaan, dan kearifan. Air mata pun tak sanggup lagi mengalir dari pelupuk mata kala mendengar ayat-ayat Tuhan dikumandangkan. Kepedulian terhadap sesama pun lenyap, bahkan pun mungkin saja senyum tersirat manakala mendengar orang lain tertimpa dalam bencana. Itulah hati yang telah ternaungi oleh awan gelap. Kemaksiatan telah menggerogoti esensi kemuliaan hati, kemudian menjadikannya hina. Hati seolah kehilangan pijakan dalam melakukan suatu amalan. Semakin lemah oleh rayuan iblis yang teramat melenakan. Hati demikian mudah tergoda akan rayuan makhluk laknat yang menawarkan kesenangan sesaat. Ia kehilangan arah ditengah pekatnya kabut. Tak lagi ada kendali yang mampu menakhodai. Kemaksiatan merupakan cerita pilu dari langkah awal memijak jurang neraka.
Kemaksiatan memang tombak yang menikam jiwa. Ia tidak hanya menjadikannya luka, namun mengoyaknya hingga tercabik-cabik. Jiwa ataukah hati itu menjadi serpihan-serpihan yang sulit untuk merangkainya kembali. Maksiat mengeraskan hati, menjadikannya seakan-akan tameng yang tak tertembus cahaya hidayah. Tentu saja, hal itu akan semakin menenggelamkan hati dalam penyimpangan dan kesesatan. Hati kian terkekang dalam racun dan candu, sulit untuk melepaskan diri darinya. Hati semakin tergoda menunaikan satu kemaksiatan, dan kemudian akan menuju kemaksiatan yang lain.
Demikian hinanya suatu kemaksiatan, hingga ilmu pun pergi dan tak sudi hinggap diakal pikiran. Ilmu sungguh merupakan cahaya yang menjadi penerang dalam hidup kita. Maka ia hanya ingin terendap dalam pikiran dan hati yang bersih.
Pintu taubat masih terbuka lebar selama ruh masih bersemayam didalam raga. Tuhan pun tak sungkan menerima taubat hamba-Nya sebelum kiamat datang menghampiri. Iringan amal soleh pun akan menyapu debu-debu dosa yang mengotori jiwa kita. Namun, ternyata sedikit saja dari kita yang berkomitmen untuk melaksanakannya. Betapa banyak anak manusia yang justru bangga, atau mungkin bahagia konsisten dalam menempuh jalan kelam. Tetap mereka tidak mungkin merasakan esensi kebahagiaan dalam suatu kemaksiatan. Tentu saja, kita semua harus bertanya kepada relung hati yang terdalam. Tidak ada satu pun dari diri kita yang tidak ingin menghirup sejuknya udara surga. Kelamnya hati tentu akan tetap merindukan kebahagiaan di akhirat nanti. Kita tetap saja manusia, makhluk lemah yang tiada sanggup menghadapi siksa neraka yang panasnya tujuh puluh kali lipat dari panasnya api di bumi. Mungkin mulut kita biasa berdusta, namun sanubari tidak akan bisa ditipu. Tanyakan padanya, pasti sanubari teramat mendamba ketentraman kehidupan di surga. Maka tiada lain, kerahkan upaya lindungi diri dari segala perbuatan dosa.

Setiap Orang Adalah Guru Kehidupan 

Sikap menghargai orang lain merupakan identitas seorang muslim, penghargaan yang tanpa melihat status, warna kulit, ataupun pekerjaan seseorang. Seorang yang mengakui dirinya muslim, wajib mau menghargai orang lain. Penghargaan itu harus hadir di atas keyakinan bahwa masing-masing orang memiliki kelebihan, dan tidak ada seorang pun di antara kita yang sanggup hidup, dan menyelesaikan tugas-tugas kehidupannya sendiri. Manusia adalah makhluk berjama’ah yang memerlukan kontribusi orang lain dalam hidupnya. Tetapi, seringkali penghargaan itu hilang dari diri kita, terhadap orang-orang yang selama ini ada disekitar kita, orang-orang yang banyak memberi kontribusi untuk kemudahan dalam hidup kita, justru karena mereka sering bersama kita.
Agar hal ini tidak lagi menjadi kebiasaan kita, maka ada persepsi-persepsi yang harus kita bangun, agar ketika kita memandang orang lain ada pemuliaan dan penghargaan yang membuat mereka layak menjadi bagian penting dalam hidup kita.



Setiap Orang Punya Perasaan yang Harus Dijaga
Manusia adalah makhluk yang tumbuh di dalam dirinya perasaan. Tak peduli seperti apa statusnya, seberapa usianya, dan bagaimana keadaannya, perasaan itu selalu ada dalam dirinya. Anak kecil punya perasaan sebagaimana orang dewasa pun mempunyai perasaan. Rakyat jelata pun memiliki perasaan sebagaimana juga penguasa maupun bangsawan. Dan kita, wajib memahami dan memaklumi perasaan itu agar bisa menghargai setiap orang yang kita hadapi.

Dalam konsep ‘hablum minannas’ yang diajarkan kepada kita, ada tujuan dan maksud yang sangat jelas bahwa kita perlu menjaga hubungan sesama manusia, selain menjaga hubungan baik dengan Dzat yang Maha Pencipta. Maknanya adalah, menjaga perasaan orang lain sama pentingnya dengan menjaga perasaan diri sendiri, karena Allah Ta’ala telah menjadikan manusia itu senang akan penghargaan, pujian, dan kelembutan tutur kata sebagaimana Allah Ta’ala berfirman, “Maka disebabkan rahmat dari Allah lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Kerena itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.” (QS. Ali Imran: 159).
Penghargaan terhadap perasaan orang lain tidak berarti kita harus selalu setuju dengan apa yang diucapkan atau yang dikerjakannya. Menghargai orang lain secara sederhana bisa dilakukan dengan mengatur dan memperbaiki tata cara kita mendengar, menanggapi, dan memberi perhatian terhadap apa yang diceritakan, dikerjakan atau yang diperankan orang tersebut.
Setiap Orang Adalah Guru Kehidupan
Dikehidupan ini, sesungguhnya hubungan kita dengan orang lain bukanlah sekedar interaksi dan pergaulan biasa. Tetapi kita hidup untuk saling berbagi, memberi, maupun menerima dalam hal apapun. Dalam kehidupan ini, sesungguhnya kita saling mengisi, saling mengajar untuk mencapai dan mendapatkan keadaan kita yang lebih baik, lebih sempurna, dan lebih bermartabat.
Dikehidupan ini kita sedang belajar banyak hal agar kita dapat menemukan kearifan. Berproses dan terus berproses, hingga kelak kita menjadi orang-orang yang bijak. Dan setiap orang yang kita temui adalah guru-guru kita yang akan mengajarkan sesuatu yang baik tentang makna kehidupan dan arti pergaulan. Karena itulah kita harus bisa menghargai siapa pun orang di dunia ini, termasuk orang-orang biasa yang setiap kita temui dengan peran-perannya yang sederhana. Termasuk orang-orang yang kadang-kadang kita pandang sebelah mata karena status dan pekerjaannya mungkin tak sepadan dengan kita.

Setiap orang adalah guru dalam kehidupan kita. Kita belajar darinya tentang pribadinya yang unik dan menarik, yang kadang tersembunyi atau sengaja kita sembunyikan karena hanya mau melihatnya dari sudut luar yang sempit, dari tubuhnya yang hanya dibalut dengan pakaian yang lusuh.

Jangan Abaikan Ucapan Terima Kasih
Manusia tidak akan pernah bisa hidup dengan mengerjakan segala sesuatunya dengan sendiri. Kita mesti memerlukan banyak bantuan orang lain, sekecil apapun bantuannya. Karena itu, kita harus pandai berterima kasih kepada “orang-orang kecil” yang hadir disekitar kita, membantu kita menyelesaikan tugas-tugas dan urusan-urusan kita.

Mengucapkan terima kasih adalah suatu penghargaan yang tulus kepada orang lain dan tidak dapat kita nilai dengan uang. Mengucapkan terima kasih tidaklah perlu memandang kepada siapa kita berterima kasih. Mungkin saja kita berterima kasih kepada orang lain yang mungkin status sosialnya jauh dibawah kita.

Ucapan terima kasih kita yang tulus, laksana air yang menyejukkan dahaga ditengah padang pasir. Ucapan terima kasih walaupun sepele, akan tetapi mengandung makna yang begitu besar. Seseorang yang mengucapkan terima kasih menunjukkan bahwa orang tersebut berbesar hati, mau memberikan penghargaan kepada lawan bicaranya. Ucapkan terima kasih kepada siapa pun yang telah membantu kita menyelesaikan tugas-tugas kita.
Ucapan terima kasih tentu patut kita layangkan kepada orang-orang yang kurang kita hargai selama ini, karena dengan begitu, maka secara otomatis kita telah berterima kasih kepada Allah Ta’ala.

Setiap Pribadi Adalah Penting dan Istimewa
Sesungguhnya setiap orang memanglah istimewa. Setiap orang memiliki kelebihan, dan karena itu kita saling membutuhkan. Dan karena itu pulalah, kita tidak boleh saling merendahkan. Kita diajarkan kalimat, “Jangan engkau rendahkan orang lain, kerena setiap sesuatu punya kelebihan dan keistimewaan.”

Sesekali mungkin kita perlu memerhatikan tukang sol sepatu, tukang reparasi payung, tukang jahit keliling, pemangkas rambut, yang sering menghampiri kita untuk menawarkan jasanya. Tangan-tangan mereka begitu lincah dan terampil, sehingga kita merasa nyaman dan percaya menggunakan jasa mereka. Tapi, orang-orang itu begitu sulit kita hargai. Kadang ketika kita memakai jasa seorang tukang sol sepatu, dengan begitu kejamnya kita menawar harga. Padahal, bisa jadi di hari itu, kita adalah pelanggan pertamanya setelah menempuh perjalanan yang teramat jauh. Sementara di rumahnya telah menunggu anak istri yang membutuhkan makanan dan pakaian.
Orang-orang itu adalah orang-orang istimewa. Mereka mampu mengerjakan sesuatu yang tidak dapat kita lakukan. Maka untuk menghargai mereka, tidak akan bisa jika kita tak pernah menganggapnya penting dan istimewa.

Orang-orang itu memang kecil secara pekerjaan, tapi istimewa dari sisi keahlian. Mereka ada disekitar kita, selalu bersama kita dengan tanpa pernah menuntut untuk dihargai, sebab mereka adalah orang-orang yang tahu diri, lebih dari kita. Akan tetapi interaksi dan kebersamaan kita dengan mereka, sudah seharusnya mendorong kita untuk pandai menghargai, memuliakan, dan menghormati, sebab tanpa kehadiran mereka mungkin tidak ada pekerjaan-pekerjaan berat yang bisa kita selesaikan, tak ada prestasi-prestasi hebat yang bisa kita capai.

Dirangkum dari Majalah Tarbawi Edisi 221 Th. 11, 11 Februari 2010 halaman 21-26

Keutamaan Membaca Al-Qur’an

Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat serta menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Menyukuri.” (QS. Fathir: 29-30)
Ada dua cara seseorang di dalam membaca kitab Allah. Pertama, tilawah hukmiyyah, yaitu membenarkan segala berita yang ada di dalamnya dan menerapkan hukum-hukumnya dengan cara melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Kedua, tilawah lafhzhiyyah atau qira’atul Qur’an, banyak sekali nash-nash yang menyebut keutamaannya. Dalam Shahih Bukhari, disebutkan riwayat dari Utsman bin Affan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.”

Dalam Shahihain, disebutkan pula hadits dari Aisyah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Orang yang mahir membaca Al-Qur’an kelak (mendapat tempat disurga) bersama para utusan yang mulia lagi baik. Sedangkan orang yang membaca Al-Qur’an dan masih terbata-bata, dan merasa berat dan susah, maka dia mendapatkan dua pahala.”
Dua pahala ini, salah satunya merupakan balasan dari membaca Al-Qur’an itu sendiri, sedangkan yang kedua adalah atas kesusahan dan keberatan yang dirasakan oleh pembacanya.
Dalam Shahih Muslim disebutkan riwayat dari Abu Umamah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Bacalah Al-Qur’an, karena pada hari Kiamat nanti dia akan datang sebagai pemberi syafa’at kepada orang yang membacanya.”
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Siapa yang membaca satu huruf dari kitab Allah, maka ia mendapatkan satu kebaikan, sedangkan kebaikan itu dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat. Saya tidak mengatakan alif laam miim itu satu huruf, akan tetapi alif satu huruf, laam satu huruf, dan miim satu huruf.” (HR. At-Tirmidzi)
Keutamaan-keutamaan ini meliputi seluruh kandungan isi Al-Qur’an. Banyak hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang menyebutkan keutamaan surat-surat tertentu, misalnya surat Al-Fatihah. Dalam Shahih Bukhari diriwayatkan dari Abu Sa’id bin Mu’alla bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berkata kepadanya, “Aku akan mengajarkanmu surat yang paling agung di dalam Al-Qur’an, yaitu Alhamdulillaahi Rabbi l-‘alamiin (Al-Fatihah). Ini adalah tujuh ayat yang diulang-ulang dan Al-Qur’an agung yang diberikan kepadaku.”
Oleh karena keutamaannya itu, maka membacanya menjadi bagian dari rukun shalat. Shalat tidak akan menjadi sah tanpa membaca Al-Fatihah. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidak sah shalat bagi siapa yang tidak membaca Al-Fatihah.” (Muttafaq ‘alaih)
Surat dalam Al-Qur’an lainnya yang memiliki keutamaan tersendiri adalah surat Al-Baqarah dan Ali Imran. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Bacalah surat Az-Zahrowain, yaitu Al-Baqarah dan Ali Imran. Karena sesungguhnya keduanya akan datang pada hari Kiamat seperti dua buah awan atau seperti dua kawanan burung yang sedang terbang berbaris membela orang-orang yang biasa membacanya. Bacalah surat Al-Baqarah karena membacanya membawa berkah sedangkan meninggalkannya akan menyebabkan penyesalan. Surat ini tidak akan bisa dibaca oleh para tukang sihir.” (HR. Muslim)
Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya rumah yang di dalamnya dibacakan surat Al-Baqarah, tidak akan bisa dimasuki setan.” (HR. Muslim)
Surat lainnya yang mempunyai keutamaan khusus adalah surat Al-Ikhlas. Dalam Shahih Bukhari disebutkan riwayat dari Abu Said Al-Khudri bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Demi Dzat yang menguasai jiwaku, sesungguhnya ia sebanding dengan sepertiga Al-Qur’an.”
Selain itu, surat yang memiliki keutamaan tersendiri adalah surat Al-Falaq dan An-Nas, atau biasa disebut mu’awwidzatain. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tahukah kamu beberapa ayat yang diturunkan pada hari ini yang belum pernah sebanding dengannya? Yaitu Qul ‘a’udzibi Rabbi l-falaq, dan Qul ‘a’udzubi Rabbi n-nas.” (HR. Muslim)
Oleh karena itu, sudah sepatutnya bagi kita untuk bersungguh-sungguh memperbanyak bacaan Al-Qur’an yang penuh berkah, apalagi di bulan Ramadhan. Para Salafush Shalih dahulu selalu memperbanyak bacaan Al-Qur’an di bulan Ramadhan. Imam Malik, jika Ramadhan tiba, maka beliau berhenti dari membaca hadits dan majelis-majelis ilmu (berhenti mengajar) untuk kemudian berganti membaca Al-Qur’an. Imam Qatadah selalu meng-khatam-kan bacaan Al-Qur’an setiap tujuh hari sekali, sedangkan pada bulan Ramadhan meng-khatam-kannya setiap tiga hari sekali, dan pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan meng-khatam-kannya setiap hari.
Sumber:
Kajian Romadhon, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin: Al-Qowam

Memahami Inti Tauhid

Tauhid adalah meng-esakan.
Mentauhidkan Allah sebagaimana dijelaskan ulama meliputi tiga hal, yaitu:
1.  MentauhidkanNya dalam Rububiyah, yaitu mentauhidkanNya dalam setiap perbuatan Allah.
Contoh diantara perbuatan Allah adalah Menciptakan, menghidupkan, mematikan, memberi rezeki, mengatur alam ini, mengijabahi do’a, menguasai alam ini, memberi manfaat, mendatangkan madharat, mampu melakukan apapun.
Maka setiap orang yang meyakini bahwa setiap perbuatanNya hanya Allah yang melakukan maka dia telah mentauhidkan dalam RububiyahNya.
2.  MentauhidkanNya dalam uluhiyah atau  mentauhidkanNya dalam setiap ibadah, yaitu setiap ibadah yang dilakukan seorang hamba hanya untuk mengharap keridhoanNya.
Ibadah adalah sebuah ibarat yang mencakup segala perbuatan, perkataan yang diridhoi Allah dan dicintaiNya baik yang terlihat ataupun yang tersembunyi didalam hati.
Contoh ibadah adalah berislam, beriman, ihsan, do’a, rasa takut, rasa berharap, tawakal, rasa cinta, meminta pertolongan, berkorban, dzikir, sholat, haji dll.
Jika seseorang dalam setiap perbuatannya itu hanya mengharap ridho Allah maka dia telah mentauhidkan dalam uluhiyah.
3.  MentauhidkanNya dalam Nama-Nama dan SifatNya.
Caranya dengan dua hal, yaitu:
-          Kita menolak setiap nama-nama  dan sifat-sifat  yang ditujukan kepada Allah yang mana nama-nama  dan sifat-sifat  itu tidak ditetapkan oleh Allah dan RasulNya.
-          Kita hanya menetapkan nama-nama  dan sifat-sifat  Allah yang sudah ditetapkan oleh Allah dan RasulNya.
Itulah maksud dari mentauhidkan Allah.
Siapa saja yang bisa mewujudkan itu maka pasti dia masuk Jannah, Allahu a’lam.

MAKSIMALISASI AMAL SHALEH 

MAKSIMALISASI AMAL SHALEH
Sebuah Refleksi Nilai Takwa Pasca Ramadhan
Oleh : Ahmad Hanafi, Lc, MA
Staf Pengajar Ma'had 'Aly al-Wahdah/STIBA Makassar
Bagi seorang muslim, Ramadhan dengan deretan amal shaleh, baik dalam tataran ibadah fardiyah yang lebih terfokus pada aspek pembinaan kepribadian (mis: sholat, puasa, tilawah al-Qur'an, i'tikaf dll ) ataupun dalam tataran ibadah ijtimaiyah yang lebih mengedepankan nilai sosial dalam bentuk kepedulian terhadap sesama (zakat, shodaqah, memberi buka puasa dan hidangan sahur dll) adalah merupakan sarana-sarana mewujudkan ketakwaan yang hakiki dalam bulan yang mulia ini.

Tetapi, akan sangat disayangkan apabila nilai-nilai positif ini berakhir bersamaan dengan berakhirnya musim ketaatan ini. Adalah hal yang aneh, jika seorang muslim yang begitu khusyu' dan bergairah melaksanakan amalan-amalan mulia di bulan yang penuh berkah ini, lantas setelah Ramadhan ia kembali melakukan hal-hal yang bertentangan dengan nilai-nilai ketakwaan yang telah ia semai selama rentan waktu sebulan penuh. Apa yang patut kita banggakan bila Ramadhan hanya diakhiri dengan euforia baju baru, penganan lebaran dan tradisi mudik tahunan?. Sungguh bijak seorang penyair Arab yang berkata:

Laisa al-'iidu man labisa al-jadid Walakin al-'iid man tho'atuhu taziid
(Hari Raya bukanlah ditandai dengan pakaian baru, tetapi hakikat hari raya adalah siapa yang ketaatannya bertambah maju)

Muslim yang sadar akan makna Ramadhan adalah yang akan terus memelihara interaksinya dengan Allah Ta'ala dengan mengaplikasikan nilai-nilai kebajikan meskipun ia telah tamat dari Madrasah Ramadhaniyah. Ia sangat yakin bahwa esensi ketakwaan seharusnya dapat tetap disemai dan ditumbuhsuburkan pada kurang lebih 330 hari pasca Ramadhan. Ia adalah sosok yang tetap istiqomah berusaha untuk shaleh terhadap dirinya dan kepada sesama, bahkan kepada makhluk yang lain, meskipun tidak diiming-imingi dengan ganjaran pahala yang belipat ganda seperti dalam Ramadhan.
Setidaknya ada empat prinsip yang dapat kita tangkap dalam merefleksikan nilai takwa sebagai sarana untuk memaksimalkan potensi amal shaleh pasca Ramadhan:
  1. Prinsip Fastabiqul khaerat
    Bersegara dalam merebut setiap peluang untuk melakukan kebaikan merupakan salah satu ciri orang yang bertakwa (al-Imran: 133). Selain Fastabiqul khaeraat (al-Baqarah: 148), ada beberapa bentuk seruan Allah  dalam al-Qur'an yang memotivasi kita untuk bersegera untuk melakukan kebajikan dan tidak menjadi orang yang selalu menunda amalan. Kata-kata Wasaari'uu (bersegeralah kalian) (al-Imran :133), Wasaabiquu (berlomba-lombalah kalian) ( (al-Hadiid:21), Wafidzalika falyatanaafasil mutanaafisun (Dan pada yang seperti itu hendaklah kalian saling bersaing) (al-Muthaffifiin:26) semuanya bermuara kepada makna agar setiap muslim memanfaatkan peluang kebajikan dengan segera dan menjadi yang terbaik (menjadi pemenang dan bukan pecundang) dalam setiap amal shaleh yang dikerjakan. Allah memuji Nabi Zakariya 'Alaihissalam beserta keluarga beliau karena telah berhasil mengejawantahkan prinsip ini dalam bingkai yang terbaik. Allah berfirman :

    "Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera  dalam mengerjakan perbuatan-perbuatan baik dan mereka berdo'a kepada Kami dengan penuh harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu' kepada Kami. (al-Anbiyaa': 90).

    Ternyata kekhusyukan Zakariya 'alaihissalam adalah kekhusyukan yang berdimensi semangat untuk bersegera dalam melakukan kebajikan.
  2. Prinsip Mujahadah (Kesungguhan)
    Melakukan amal shaleh secara maksimal membutuhkan pengorbanan (tadhiyah). Ubay bin Ka'ab mengilustrasikan bahwa ketakwaan itu ibarat berjalan di jalan yang penuh duri ia butuh kahati-hatian dan kesungguhan. Ia berangkat dari niat yang ikhlas kemudian secara nyata ditunjukkan dengan amal yang serius dan penuh kesungguhan. Allah Ta'ala memuji dan menjanjikan syurga para pejuang amal shaleh yang dengan serius dan penuh kesungguhan membuktikan bahwa ketakwaan bukan hanya sekedar untaian kata-kata manis dan hiasan bibir tetapi perlu dibuktikan dan ditunjukkan kehadirat Ilahi Rabbi. Allah berfirman :

    "Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam, dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun, dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bahagian (tidak meminta-minta). (Adzdzaariyaat : 16-18)

    Kesungguhan dalam ibadah tidak hanya nampak dalam ritual ibadah yang bersifat habluminallah tapi ia mempunyai konstribusi yang sangat kuat dalam menghidupkan ibadah yang bernuansa  habluminannas dengan berbagi kepedulian terhadap kaum dhu'afa.
    Sebagai balasan atas komitmen kesungguhan ini hamba Allah Ta'ala berjanji untuk memberikan petunjuk dan membuka jalan-jalan kebajikan untuknya. Allah Ta'ala berfirman:
    "Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami maka Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami". (al-Ankabuut: 69)
  3. Prinsip Istimroriyah (Berkesinambungan)
    Prinsip menjaga istimroriyah amalan adalah bagian yang tidak terpisahkan dalam rangkaian ibadah dalam Islam, bahkan ia menjadi satu ruh yang menjiwai amalan tersebut berkwalitas atau tidak. Nabi Shallallahu 'alaihi Wasallam pernah ditanya: "Apakah amalan yang paling dicintai Allah? Beliau menjawab: "Amalan yang dilaksanakan secara berkesinambungan (kontinyu) walaupun sedikit" (HR. Bukhari). Aisyah Ummul Mukminin menjelaskan bahwa Rasulullah adalah orang yang paling konsisten dalam melakukan amalan/ibadah (HR.Muslim). Dalam rangka menjaga kesinambungan amalan, Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam juga kadang mengganti (qodho) suatu amalan yang beliau tidak lakukan pada waktunya dikarenakan adanya halangan.
    Warna kesinambungan amalan nampak sangat mencolok di tengah aktifitas Ramadhan mulai dari puasa itu sendiri, sholat (wajib dan sunnah), zakat, shodaqah dan amalan-amalan lainnya. Bahkan di luar itu, Islam hanya mensyariatkan satu jenis ibadah yang diperintahkan untuk dilakukan sekali dalam seumur hidup, yaitu ibadah haji, itupun takkala kita mampu menunaikannya. Ini menandakan bahwa semangat menerapkan nilai takwa harus beriringan dengan adanya kesadaran menerapkan kesinambungan serta menjaga konsistensi amalan yang dilakukan.
  4. Prinsip Tawazun (Keseimbangan)
    Syariat Allah adalah syariat yang dibangun di atas landasan at-taysir wa raf'ul masyaqqah (mudah dan tidak mempersulit). Ia diciptakan untuk manusia yang mempunyai keterbatasan dalam banyak hal. Allah tidak mensyariatkan satu bentuk perintah ataupun larangan kecuali semuanya dalam batasan kesanggupan dan kemampuan manusia itu sendiri. (al-Baqarah : 286).
    Maksimalisasi amal shaleh tidak berarti kita harus bersikap ekstrim (ghuluw) dalam mengaktualisasikan ibadah-ibadah yang disyariatkan. Maksimalisasi bermakna melaksanakan ibadah sesuai dengan kesanggupan yang dimiliki asal tidak juga memandang remeh apalagi memudah-mudahkan.

    Dalam kitab Shahih al-Bukhari diceritakan perihal tiga orang sahabat yang mendatangi rumah istri-istri Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam untuk mencaritahu tentang ibadah-ibadah Rasulullah. Ketika disampaikan kepada mereka tentang realitas ibadah Rasulullah, merekapun tiba pada kesimpulan bahwa apa yang dilakukan oleh Rasulullah masih sedikit (belum maksimal). Dalam kisah tersebut, masing-masing dari ketiga sahabat itupun berjanji. Sahabat yang pertama berjanji untuk melaksanakan qiyamullail sepanjang malam dan tidak tidur. Yang kedua benjanji untuk berpuasa sepanjang tahun (setiap hari). Dan ketiga berjanji untuk tidak menikah. Mendengar hal tersebut, Rasulullah pun segera menegur ketiganya seraya mengatakan bahwa sunnah (tuntunan) beliau adalah bersikap seimbang dalam ketiga perkara tadi.

    Sikap tawazun dalam beramal dan menjauhi paradigma ghuluw merupakan bagian yang terpenting dalam memaksimalkan amal shalih. Menjaga kesederhanaan, keseimbangan dan tetap memperhatikan hak-hak yang lain (hak keluarga, badan dan yang lainnya) inilah yang akan memberikan konstribusi nafas yang panjang dalam pelaksanaan amalan itu sehingga ia tidak menjenuhkan apalagi sampai meninggalkan amalan itu secara total. Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wasallam bersabda :
    "Bersikap sederhanalah, bersikap seimbanglah pasti kalian akan maksimal". (HR. Bukhari).

Landasan amal shaleh
Namun maksimalisasi amal shaleh tidak berarti kita bebas berkreasi untuk menentukan baik dan tidaknya amalan tersebut. Amalan yang berkwalitas (ahsanuamalan) -terutama dalam perkara-perkara ibadah yang bersifat mengikat- adalah amalan yang menepati dua persyaratan mutlak, pertama adalah keikhlasan serta kesucian niat. Dan yang kedua adalah amalan tersebut dilakukan sesuai petunjuk/tuntunan yang disyariatkan. Allah mengancam orang-orang yang telah maksimal beramal, tetapi ketika ia tidak memenuhi dua persyaratan tersebut maka ia tidak memberi keselamatan tetapi menjerumuskannya kepada siksa yang amat pedih. (al-Ghasyiyah : 3-4). Wal'iyadzubillah.

Akhirnya, indahnya dan sejuknya ucapan takbir, tahmid dan tahlil yang kita lantunkan di hari kemenangan -yang merupakan puncak dari aktualisasi amal shaleh Ramadhan- akan semakin terasa indah dan berkesan ketika disertai komitmen yang kuat untuk mempertahankan nilai-nilai takwa dalam meniti hari-hari selanjutnya. Allahu a'lam bisshawab.

Sumber : wahdah.or.id

1 komentar: